{"id":3445,"date":"2026-07-10T23:46:50","date_gmt":"2026-07-10T16:46:50","guid":{"rendered":"https:\/\/isee.or.id\/?p=3445"},"modified":"2026-07-13T23:03:06","modified_gmt":"2026-07-13T16:03:06","slug":"3445-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/isee.or.id\/en\/3445-2\/","title":{"rendered":"Belajar dari Sarolangun"},"content":{"rendered":"<p class=\"p1\"><b><i>\u2018\u2019Kito Percayo, Kalau Ada Maunyo, <\/i><\/b><b><i>Pasti Ado Jalannyo\u2019\u2019.<\/i><\/b><\/p>\n<p class=\"p2\">Suku Anak Dalam, atau sebagaimana mereka menyebut diri \u201cSuku Rimba\u201d belum terlalu dikenal oleh masyarakat Indonesia karena keberadaan mereka sudah sangat langka dan tinggal di tempat terpencil jauh dari jangkauan manusia. Terlebih, mereka berpindah dari suatu tempat ketempat yang lain (nomaden) yang membuat keadaan mereka semakin sulit diketahui. Kabupaten Sarolangun, tepatnya di Desa Gurun Tuo dimana pelatihan ini dilaksanakan, menjadi salah satu tempat dimana Suku Anak Dalam bermukim.<\/p>\n<p class=\"p3\">Sumber penghasilan mereka perlu menjadi perhatian agar tidak terjadi bencana sosial akibat ketersendatan ekonomi yang diakibatkan oleh absennya nutrisi dan sumber mata pencaharian baru bagi komunitas adat ini. Untuk menyambung hidup, Suku Anak Dalam (SAD) ini mengupayakan dengan cara memanfaatkan hasil hutan (getah pohon meranti) yang akan dijual atau ditukar, maupun berburu hewan hutan (babi, rusa, dan kancil).<\/p>\n\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u2018\u2019Kito Percayo, Kalau Ada Maunyo, Pasti Ado Jalannyo\u2019\u2019. Suku Anak Dalam, atau sebagaimana mereka menyebut diri \u201cSuku Rimba\u201d belum terlalu dikenal oleh masyarakat Indonesia karena keberadaan mereka sudah sangat langka dan tinggal di tempat terpencil jauh dari jangkauan manusia. Terlebih, mereka berpindah dari suatu tempat ketempat yang lain (nomaden) yang membuat keadaan mereka semakin sulit [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":12,"featured_media":3485,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9,6],"tags":[],"class_list":["post-3445","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-buku-jurnal","category-publikasi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/isee.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3445","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/isee.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/isee.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/isee.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/12"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/isee.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3445"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/isee.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3445\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3490,"href":"https:\/\/isee.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3445\/revisions\/3490"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/isee.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3485"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/isee.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3445"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/isee.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3445"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/isee.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3445"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}